Tel Aviv, Senin, 11 Agustus 2025 – Ribuan warga Israel memadati pusat kota Tel Aviv pada Sabtu (9/8) untuk memprotes agresi militer negaranya terhadap Gaza. Aksi ini menjadi salah satu unjuk rasa terbesar dalam beberapa bulan terakhir, menandakan semakin besarnya penolakan publik terhadap kebijakan perang pemerintah.
Para demonstran membawa spanduk, bendera, dan meneriakkan yel-yel menuntut dihentikannya serangan militer serta dimulainya gencatan senjata. Mereka juga mendesak pemerintah segera menyelesaikan negosiasi pembebasan sandera yang masih berada di Gaza.
Keluarga para sandera ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut, bahkan menyerukan mogok nasional untuk memberi tekanan politik kepada pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Tekanan terhadap Netanyahu tidak hanya datang dari publik, tetapi juga dari dalam kabinet. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengancam akan mendorong pemilu dini jika kebijakan perang tidak berubah.
Di tingkat global, sejumlah negara dan organisasi internasional memperingatkan risiko krisis kemanusiaan di Gaza. Badan-badan bantuan menyoroti potensi kelaparan massal dan meningkatnya korban sipil jika operasi militer terus berlanjut.
Gelombang dukungan untuk Gaza juga terlihat di berbagai negara. Aksi solidaritas berlangsung di London, Berlin, Athena, dan Madrid, menunjukkan bahwa isu ini telah menjadi perhatian internasional yang luas.
Artikel ini telah tayang di
Koran.co.id
0 Komentar