| Siswa SD di NTT Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena; Rocky Gerung Kritik Sistem Republik. (Foto/Sindonews) |
Ngada, Nusa Tenggara Timur - Rabu, 4 Februari 2026 – Sebuah tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10) mengakhiri hidupnya diduga karena putus asa tidak mampu membeli buku tulis dan pena untuk sekolah. Kasus ini menuai kritik keras dari berbagai pihak termasuk akademisi Rocky Gerung yang menyatakan ada yang tidak beres dengan kondisi Republik Indonesia.
Kronologi Kejadian
Peristiwa tragis ini terjadi pada akhir Januari 2026 ketika korban, siswa kelas IV SD, meminta kepada ibunya uang untuk membeli buku dan pena. Kebutuhan tersebut sebenarnya hanya berharga sekitar Rp 10 000, namun keluarga korban tidak mampu memenuhinya karena kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Korban kemudian ditemukan meninggal dunia di sebuah lokasi di Ngada.
Surat tulisan tangan yang ditemukan di tempat kejadian juga menggambarkan isi hati korban sebelum mengambil keputusan tragis tersebut, memperlihatkan tekanan batin yang dialami seorang anak pada usia sangat muda.
Reaksi Publik dan Kritik terhadap Pemerintah
Akademisi Rocky Gerung menyoroti kejadian ini sebagai indikator adanya masalah mendasar dalam tata kelola republik, bahkan mengaitkan tragedi ini dengan kebijakan besar yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil.
Sementara itu, berbagai elemen masyarakat, tokoh publik, dan lembaga pendidikan menilai tragedi ini merupakan alarm keras bagi negara untuk memperbaiki sistem pendidikan dan perlindungan sosial anak di Indonesia.
Seruan untuk Perbaikan Sistem Pendidikan dan Perlindungan Anak
Beberapa legislator dan pengamat pendidikan mengatakan peristiwa ini mengungkapkan celah besar dalam pemenuhan hak dasar pendidikan anak, terutama di daerah tertinggal seperti NTT. Anggota Komisi VIII DPR menilai kasus ini sebagai alarm serius bagi negara untuk hadir secara nyata dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dasar.
Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) juga menekankan bahwa kejadian ini merupakan bukti kegagalan negara dalam menjamin hak anak atas pendidikan, bahkan saat anggaran pendidikan diklaim terus meningkat.
Pejabat pemerintah seperti Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menyatakan bahwa tragedi ini harus menjadi cambuk kewaspadaan bersama agar pemerintah dan masyarakat lebih peduli terhadap kebutuhan dasar masyarakat, terutama anak-anak.
Gubernur NTT juga menyatakan keprihatinan mendalam dan menyebut kejadian ini sebagai tamparan keras bagi pemerintah daerah dan pusat agar lebih serius dalam mencegah peristiwa serupa di masa depan.
Kejadian ini kembali menegaskan pentingnya pendataan sosial dan ekonomi keluarga, serta perlu adanya mekanisme deteksi dini kondisi psikososial siswa di sekolah. Perlindungan anak dan pemenuhan kebutuhan pendidikan dasar seperti buku dan alat tulis harus menjadi prioritas agar tragedi serupa tidak terulang.
Artikel ini telah tayang di
Koran.co.id
Social Header